Berita

PE Sumbar 3,37 Persen pada 2025, Akademisi Unand Soroti Perlambatan Struktural

4
×

PE Sumbar 3,37 Persen pada 2025, Akademisi Unand Soroti Perlambatan Struktural

Sebarkan artikel ini
SOROTI PE SUMBAR- Dr. Hefrizal Handra, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II Unand, menyoroti PE Sumbar saat ini yang dinilai mengalami perlambatan struktural.

PADANG, POLIKATA.COM- Pertumbuhan ekonomi (PE) Sumatera Barat pada 2025 tercatat sebesar 3,37 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumatera Barat (BPS Sumbar). Angka ini menunjukkan ekonomi daerah tetap tumbuh, namun dalam perspektif historis memperlihatkan tren perlambatan yang konsisten dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Pada awal 2010-an, pertumbuhan ekonomi Sumbar masih berada di atas 6 persen. Setelah itu melandai ke kisaran 5 persen, kemudian stabil di sekitar 4 persen, dan dalam beberapa tahun terakhir bergerak mendekati 3 persen.

“Pola ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap dan konsisten. Ini menunjukkan bahwa perlambatan bukan sekadar fluktuasi jangka pendek,” ujar Dr. Hefrizal Handra, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang juga saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor II Unand, dikutip dari situs resmi unand.ac.id, Minggu (22/2/2026).

Hefrizal, yang meraih gelar doktor di bidang Public Finance dari Flinders University of South Australia, menilai bahwa jika perlambatan hanya bersifat siklus bisnis, pemulihan pascapandemi seharusnya mampu mengembalikan pertumbuhan ke kisaran 5–6 persen.

Baca Juga  Wujudkan Pramuka Islami yang Tangguh, MAN 3 Sukses Gelar LKPIP IV

“Pemulihan memang terjadi, tetapi tidak membawa kita kembali ke lintasan pertumbuhan sebelumnya. Artinya, persoalan yang dihadapi lebih bersifat struktural,” tegasnya.

Dari sisi pengeluaran, komposisi PDRB mengalami perubahan. Pangsa konsumsi rumah tangga menurun dalam satu dekade terakhir, net ekspor meningkat, sementara investasi relatif stabil. Namun, perubahan tersebut belum mendorong akselerasi.

“Masalahnya bukan pada besarnya satu komponen pengeluaran, melainkan pada kualitas struktur produksi yang mendasarinya,” jelasnya.

Ia menyoroti struktur lapangan usaha Sumbar yang relatif stagnan. Sektor primer seperti pertanian masih menjadi kontributor utama, tetapi hilirisasi berjalan lambat. Industri pengolahan tidak menunjukkan peningkatan peran dalam PDRB, bahkan cenderung menurun. Sektor jasa memang berkembang, namun sebagian besar mengikuti konsumsi domestik tanpa lonjakan nilai tambah yang signifikan.

Baca Juga  Tinggal di Rumah Beratap Rumbia, Rumah Evi Penganyam Tikar Daun Pandan Kini Dibedah Lebih Layak Huni 

Terkait sektor pariwisata yang kerap disebut sebagai motor baru pertumbuhan, Hefrizal menilai kontribusinya belum optimal. Data menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir, sempat mencapai puncak pada 2016 sebelum kembali ke kisaran sekitar 56 ribu kunjungan per tahun pascapandemi.

“Dengan basis kunjungan yang relatif kecil dan stagnan, sulit menyimpulkan bahwa pariwisata telah menjadi mesin pertumbuhan baru. Diperlukan peningkatan daya saing destinasi, konektivitas, serta integrasi rantai nilai agar dampaknya terasa lebih luas,” ungkapnya.

Menurutnya, pertumbuhan 3,37 persen bukanlah krisis, namun menjadi peringatan.

“Tanpa pendalaman industri, hilirisasi pertanian yang serius, serta peningkatan produktivitas sektor jasa dan pariwisata, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat kemungkinan akan bertahan pada level moderat 3–4 persen,” pungkasnya. (*)