POLIKATA.COM- Harapan baru dirasakan korban bencana hidrometeorologi di Kota Padang. Dua bulan pascabencana yang meluluhlantkkan rumah mereka, Kamis (29/1/2026), pembangunan hunian tetap (huntap) untuk para penyintas bencana mulai dibangun di Kampung Talang, Koto Tuo, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh.
Proyek ini merupakan huntap pertama yang direalisasikan bagi korban bencana banjir dan banjir bandang di wilayah Sumatera Barat.
Pembangunan Huntap untuk korban bencana hidrometeorologi ini dapat terlaksana berkat bantuan Kadin Indonesia – Kadin Sumbar bersama Pemerintah Kota (Pemko) Padang, PT Semen Padang, BUMN/BUMD, TNI/Polri, dan donatur.
Di lokasi tersebut sebanyak 10 unit huntap akan dibangun untuk ditempati 10 Kepala Keluarga (KK) penyintas banjir bandang.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada niniak mamak Suku Tanjuang yang telah menghibahkan tanah mereka untuk kepentingan anak kemenakan yang terdampak bencana.
“Ini adalah salah satu yang pertama di Sumatera pascabencana. Kami berterima kasih kepada semua pihak, termasuk donatur yang ikut menyumbang,” ujar Fadly Amran di lokasi kegiatan.
Selain di Kampung Talang, Pemko Padang telah menyiapkan tiga lokasi alternatif lainnya untuk memenuhi total kebutuhan 543 unit huntap sesuai data yang diajukan. Ketiga lokasi tersebut, Balai Gadang dengan lahan eksisting seluas 2,6 Hektar dan akan ditambah 2 hektar lagi, sehingga total menjadi 4,9 hektar.
Kemudian Lambung Bukit dengan luas lahan yang disiapkan kurang lebih 4,6 Hektar. Terakhir, Simpang Haru dengan luas lahan 5.000 meter persegi.
Secara keseluruhan, lahan seluas 11 hingga 12 hektar ini diproyeksikan mampu menampung 600 hingga 700 unit rumah. Hal ini memberikan cadangan (spare) sekitar 150 unit rumah dari target awal.
Terkait aspek keamanan, Fadly Amran menegaskan bahwa lokasi-lokasi terpilih sudah mendapatkan rekomendasi dari Badan Geologi.
“Tim yang dikirim oleh Wakil Menteri (Wamen) telah memastikan bahwa lahan-lahan tersebut berstatus fine, serta clear and clean untuk pembangunan,” ujarnya.
Pemko Padang juga tengah melakukan kajian akademis bersama universitas dan balai terkait penetapan zona merah rawan bencana.
“Kita tidak ingin masyarakat membangun rumah di zona bahaya. Mereka boleh tetap berladang di sana karena itu tanah mereka, tetapi untuk tempat tinggal harus direlokasi agar aman,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Kadin Sumbar, Buchari Bachter, menyampaikan bahwa pembangunan Huntap di Kampung Talang merupakan bentuk perhatian langsung Kadin terhadap daerah-daerah terdampak bencana di Indonesia.
Ia menjelaskan, proyek ini mengusung konsep kolaborasi yang melibatkan Kadin, PT Semen Padang, dan Universitas Andalas, sekaligus mendorong keterlibatan pengusaha lokal agar perputaran ekonomi tetap berjalan di kawasan terdampak bencana.
“Pembangunan Huntap ini menggunakan teknologi Sepblock produksi PT Semen Padang yang memungkinkan proses konstruksi berlangsung cepat dengan target penyelesaian sekitar 30 hari. Ini merupakan proyek percontohan pertama di Sumatera,” jelas Buchari.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Semen Padang, Pri Gustari Akbar, menyatakan bahwa pihaknya memberikan dukungan penuh dalam pembangunan Huntap melalui penyediaan semen serta produk inovatif Sepablock yang dirancang ramah gempa dan sangat tepat diterapkan di wilayah rawan bencana.
Peran Ninik Mamak Suku Tanjung
Sementara itu, inisiator Huntap Mandiri Kampung Talang, Dasrul berbagai cerita bagaimana bencana yang menghancurkan rumah-rumah anak kemenakan Suku Tanjuang membuat Niniak Mamak harus berpikir bagaimana memastikan anak kemenakan mereka dapat segera kembali memiliki tempat untuk berteduh.
Dari situ, Dasrul bersama Niniak Mamak Suku Tanjuang memilih untuk tidak sekadar berpangku tangan. Ia menggalang kesepakatan kaum untuk menyediakan lahan seluas 14 x 12 meter per KK agar warga terdampak bisa memiliki hunian yang permanen dan layak.
“Bencana merupakan sesuatu yang telah digariskan oleh Allah bagi kami. Kami menjalani dengan tabah, namun kami tetap memiliki prinsip hidup untuk terus bertahan apapun situasinya,” ujar Dasrul.
Visi Dasrul bersama Niniak Mamak Suku Tanjuang pun jauh melampaui sekadar membangun dinding rumah. Ia telah menyiapkan konsep Kawasan Agrowisata Budaya Talang sebagai jantung ekonomi baru bagi kaumnya.
Konsep ini didesain untuk menyatukan sektor pertanian dan kebudayaan, sekaligus menjadi ikon baru bagi Kota Padang.
Untuk mewujudkan mimpi besar itu, Dasrul aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari akademisi Universitas Andalas, Kadin Indonesia, hingga sektor perbankan untuk membina kemampuan SDM warga.
Dia bertekad menjadikan alam sebagai sumber pertumbuhan ekonomi tanpa merusak ekosistemnya. Melalui koordinasi dengan para Niniak Mamak, Dasrul memastikan setiap langkah pembangunan didasarkan pada kesepakatan kolektif kaum.
“Kami sangat membutuhkan binaan dan pengembangan, baik secara fisik maupun pemikiran, agar kearifan lokal kami tetap terjaga seiring dengan meningkatnya kesejahteraan keluarga kami,” pungkas Dasrul. (red)






