BeritaPadang

Kota Tua Diremajakan, Ini yang Disiapkan Dinas PUPR Kota Padang

1
×

Kota Tua Diremajakan, Ini yang Disiapkan Dinas PUPR Kota Padang

Sebarkan artikel ini
PELABUHAN MUARO-- Kawasan Kota Tua di Kota Padang dikenal dengan Kota Tua Padang atau Padang Lama. Hadirnya Kota Tua Padang tidak lepas dari keberadaan sungai Batang Arau dan Pelabuhan Muaro.

POLIKATA.COM- Pemerintah Kota Padang gencar menarik wisatawan untuk datang ke Kota Padang. Agar wisatawan tertarik, pemerintah setempat fokus meremajakan Kota Tua yang terletak di daerah Pondok sekitarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni menata jalan dan trotoar di Jalan Klenteng. Terutama di ruas jalan dari ‘Padang Old Town’ hingga menuju Klenteng lama.

“Nantinya jalan tersebut tidak lagi dibalut aspal, tetapi akan diisi dengan batu alam maupun paving blok,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (DPUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, Jumat (30/1/2026).

Tri Hadiyanto mengatakan, saat ini DED revitalisasi Kota Tua telah dikantongi. Berdasarkan DED itu nantinya kawasan Kota Tua diremajakan dan diharapkan dikunjungi wisatawan apabila selesai dikerjakan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Yudi Indrasyani, menuturkan mendukung peremajaan Kota Tua, pihaknya berencana akan mengecat ulang bangunan tua di kawasan itu. Menurutnya, sebanyak 19 bangunan cagar budaya itu mesti dikelir sehingga lebih menarik.

“Saat ini kita berupaya mencari donatur yang mau mengecat bangunan cagar budaya di Kota Tua,” jelasnya.

Kehadiran Batang Arau dan Pelabuhan Muaro

Kawasan Kota Tua di Kota Padang dikenal dengan Kota Tua Padang atau Padang Lama. Hadirnya Kota Tua Padang tidak lepas dari keberadaan sungai Batang Arau dan Pelabuhan Muaro.

Tempat ini merupakan cikal bakal keberadaan Kota Padang dan menjadi saksi akan jayanya tempo dulu sekaligus sebagai menjadi tapak mula berkembangnya Kota Padang.

Kota Padang mulai berkembang ketika kedatangan pedagang Belanda yang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1663. Kota Padang sebagai markas besarnya untuk kawasan pantai barat Sumatera (Sumatra’s Westkust) mulai tahun 1666.

VOC tertarik untuk membuat pelabuhan di kawasan muara sungai Batang Arau, karena memiliki muara yang luas dan bagus untuk bersandar kapal-kapal dagang. Seiring berjalannya waktu, Kota Padang berkembang menjadi pusat perdagangan terpenting dengan ditujuk sebagai ibu kota pada 1668.

Pada 7 Agustus 1669, hari itu terjadinya pergolakan masyarakat Pauh, Kuranji, dan Koto Tangah untuk melawan monopli VOC dengan membakar loji di kawasan Pelabuhan Muaro. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Padang.

Pada tahun 1670 VOC kembali membuat loji dan benteng di kawasan Pelabuhan Muaro. Pada tahun 1781 benteng VOC dibongkar oleh Inggris. VOC dibubarkan pada 31 Desember 1799 dan diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kota Padang semakin berkembang setelah adanya Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, pabrik Semen di Padang, Tambang Batu Bara di Sawahlunto, dan dibangunnya jaringan kereta api hampir di seluruh wilayah Sumbar yang dikenal dengan proyek Tiga Serangkai Belanda untuk industry Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto yang sekarang menjadi warisan dunia.

Lalu lintas perdagang semakin ramai dan berkembang pesat sehingga sekitaran wilayah ini tumbuh menjadi pusat pemukiman baru yang homogen dan padat sehingga Kota Padang dijuluki sebagai kota metropolitan di kawasan pesisir pantai barat pulau Sumatera di abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Saat ini di sekitar bekas benteng VOC di tepi sungai Batang Arau merupakan pusat kota lama dengan bangunan berarsitektur kolonial. Tercatat ada lebih 20 bangsa asing di dunia pernah datang ke Kota Padang dan hingga saat ini ada 18 bangunan cagar budaya yang ada di sekitar Batang Arau. (red)