HeadlinePadang

Batang Kuranji Mengering Usai Banjir Bandang, Guru Besar Faperta Unand Ungkap Penyebabnya

3
×

Batang Kuranji Mengering Usai Banjir Bandang, Guru Besar Faperta Unand Ungkap Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
MENGERING-- Sungai Batang Kuranji yang sempat meluap dan menyebabkan banjir bandang di Kota Padang pada akhir 2025, kini justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Beberapa minggu setelah hujan ekstrem berhenti, aliran sungai tampak menipis, dangkal, dan memperlihatkan batu-batu di dasarnya.

PADANG, POLIKATA.COM— Sungai Batang Kuranji yang sempat meluap dan menyebabkan banjir bandang di Kota Padang pada akhir 2025, kini justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Beberapa minggu setelah hujan ekstrem berhenti, aliran sungai tampak menipis, dangkal, dan memperlihatkan batu-batu di dasarnya.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan publik: mengapa sungai besar bisa mengering begitu cepat?

Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Andalas, Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M.Sc, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan respons alami daerah aliran sungai (DAS) terhadap hujan ekstrem yang diikuti melemahnya simpanan air tanah.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Global Precipitation Measurement–Integrated Multi-satellite Retrievals for GPM (GPM IMERG), curah hujan di hulu Batang Kuranji pada 19–25 November 2025 tercatat melampaui 500 milimeter, kemudian disusul hujan sekitar 190 milimeter hanya dalam dua hari berikutnya.

“Dalam hidrologi, hujan sebesar ini membuat tanah di hulu jenuh total. Pori-pori tanah yang biasanya menyimpan air tidak lagi mampu bekerja optimal sehingga air berubah menjadi limpasan permukaan dan memicu banjir bandang,” jelasnya, seperti dikutip laman resmi unand, pada Selasa (3/2).

Akibat hujan ekstrem tersebut, sedimen halus dan kasar dari kawasan hulu terbawa ke alur sungai dan mengendap di bagian tengah hingga hilir. Endapan ini menyebabkan pendangkalan dasar sungai hingga satu sampai dua meter. Namun, setelah hujan berhenti, sungai justru kehilangan pasokan air dari bawah permukaan.

Menurut Prof. Dian, masalah utama terletak pada melemahnya fungsi tanah dan batuan di hulu sebagai “spons alam”. Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi kebun, ladang, jalan, dan permukiman membuat air hujan lebih cepat mengalir di permukaan tanpa sempat tersimpan sebagai cadangan air tanah.

“Kondisi ini berdampak pada melemahnya baseflow atau aliran dasar sungai. Padahal baseflow berperan penting menjaga sungai tetap mengalir saat hujan berhenti,” ujarnya.

Ia menambahkan, di beberapa segmen Batang Kuranji, dasar sungai yang tersusun material vulkanik berpori tinggi justru membuat air sungai meresap ke dalam tanah ketika muka air tanah turun. Fenomena ini dikenal sebagai losing stream, yakni sungai yang kehilangan air ke akuifer.

Data curah hujan pada 12–26 Januari 2026 menunjukkan hujan harian di hulu Batang Kuranji relatif rendah, dengan rata-rata sekitar 7,3 milimeter per hari. Intensitas ini dinilai belum cukup untuk mengisi kembali cadangan air tanah yang telah terkuras akibat hujan ekstrem sebelumnya.

Gejala ini juga terlihat dari melemahnya mata air kecil di kaki lereng serta mulai mengeringnya sumur warga di beberapa wilayah Kota Padang.

Prof. Dian menegaskan, kondisi Batang Kuranji yang tampak “kurus” merupakan pesan ekologis dari kawasan hulu. Solusi jangka panjang, menurutnya, tidak berada di hilir sungai, melainkan pada upaya pemulihan fungsi DAS.

“Pemulihan tutupan vegetasi, pengendalian erosi, perlindungan zona mata air, serta penataan pemanfaatan air menjadi kunci agar sungai kembali memiliki tabungan air dan tidak ekstrem di musim hujan maupun kemarau,” pungkasnya. (*)