Kepergian almarhum meninggalkan kesedihan tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga Pemerintah Kabupaten Agam, jajaran Kecamatan Palembayan serta masyarakat yang selama ini merasakan langsung dedikasi dan pengabdiannya.
Bupati Agam, Benni Warlis secara resmi melepas jenazah almarhum Sabirun untuk dimakamkan, Rabu (4/2/2026), dari Masjid Jamik Jorong Pasa, Nagari IV Koto Palembayan.
Prosesi pelepasan turut dihadiri Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, anggota DPRD Agam, Yopi Eka Anroni, Sekdakab Agam, Mhd Lutfi serta unsur lainnya.
Bupati Agam menyampaikan rasa kehilangan yang sangat mendalam atas wafatnya sosok yang dinilainya sebagai ujung tombak pemerintahan, sekaligus pengabdian kemanusiaan di Palembayan.
Menurut Benni Warlis, Sabirun merupakan figur sentral dalam penanganan bencana di Palembayan. Sejak awal bencana hingga proses pendirian permukiman bagi warga terdampak, almarhum selalu berada di garis terdepan.
“Beliau adalah ujung tombak di Palembayan. Dari awal bencana hingga pendirian permukiman warga terdampak, begitu berat tugas yang beliau kerjakan. Kita semua menjadi saksi atas kerja keras dan pengabdiannya,” ujar Benni.
Sejak Palembayan dilanda bencana dua bulan lalu, Sabirun hidup dan berjuang bersama masyarakat. Dalam keterbatasan logistik dan akses, almarhum tetap menjalankan tugas tanpa mengenal lelah.
“Beliau kekurangan makan, sempat terisolir, bahkan berjalan kaki untuk menjumpai dan menenangkan warga terdampak bencana. Semua dilakukan demi memastikan masyarakatnya tetap kuat dan merasa dilindungi,” ungkapnya.
Dedikasi almarhum tak surut meski kondisi kesehatannya menurun. Bahkan dalam keadaan sakit, Sabirun tetap mengutamakan keselamatan warganya dibanding dirinya sendiri.
“Dalam kondisi sakit pun beliau tetap memikirkan warga. Beliau tidak mau dirawat karena tidak ingin warganya cemas. Beliau merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan masyarakat Palembayan,” kata Benni dengan nada haru.
Bupati Agam menilai pengorbanan Sabirun selama dua bulan terakhir merupakan bentuk pengabdian luar biasa yang dilandasi keikhlasan.
“Seolah-olah Allah SWT berkata, ‘selesaikan tugas ini, baru engkau Aku jemput’. Saat kondisi pascabencana mulai memasuki masa pemulihan, beliau dipanggil Allah SWT di usia 57 tahun,” tuturnya.
Dia berharap seluruh dedikasi dan pengorbanan almarhum menjadi amal ibadah di sisi Allah SWT.
Ditambahkan Beni Warlis, Almarhum meninggalkan empat orang anak, yang telah dididik dengan baik dan menjadi investasi amal jariah bagi almarhum.
“Anak-anak beliau adalah investasi yang akan terus mendoakan orang tuanya,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Bupati Agam mengajak seluruh pihak, baik di tingkat kabupaten maupun kecamatan, untuk memaafkan almarhum apabila selama menjalankan tugas terdapat hal-hal yang kurang berkenan.
“Semoga dengan keikhlasan kita semua memaafkan, almarhum dapat pergi dengan tenang,” sebut Benni Warlis. (*)






